Makalah Kewirausahaan Medan, Juli 2018
ORANG DESA YANG MENJADI PENGUSAHA SUKSES DI JEPANG
Dosen Penanggung
Jawab
Dr. Agus
Purwoko, S. Hut., M. Si.
Disusun Oleh:
Malony Marina
171201072
Hut 2A
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kewirausahaan (Entrepreneurship) adalah proses
mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi
tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam
menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha
baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.
Wirausaha secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan
oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Beberapa istilah wirausaha seperti di
Belanda dikenadengan ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer. Pendidikan
kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa,
Amerika, dan Kanada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan
kewirausahaan atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an, hampir 500
sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. DI Indonesia,
kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan
tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya
krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun
pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi
berkembang.
Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut
wirausahawan. Muncul pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur)
mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka
mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait
dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pofil dari seorang Rustono?
2.
Apa saja prestasi yang diperoleh
Rustono dalam bidang wirausaha?
3.
Apa kiat-kiat yang dilakukan Rustono
untuk memperoleh kesuksesan?
4.
Apa kesulitan yang dihadapi Rustono
dan bagaimana upaya yang dilakukan Rustono dalam mengatasi ,masalah tersebut?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui pofil dari seorang
Rustono
2.
Untuk mengetahui prestasi yang
diperoleh Rustono dalam bidang wirausaha
3.
Untuk mengetahui kiat-kiat yang
dilakukan Rustono untuk memperoleh kesuksesan
4.
Untuk mengetahui kesulitan yang
dihadapi Rustono dan untuk mengetahui upaya yang dilakukan Rustono dalam
mengatasi masalah tersebut
PEMBAHASAN
2.1 Profil dari seorang Rustono
Pria asli Indonesia ini menyediakan
stok tempe ke lebih dari 60 tempat di Jepang. Belum termasuk negara-negara
lainnya di benua Asia, Eropa, dan Amerika.
Di balik pencapaiannya
“menduniakan” tempe, terselip pesan mendalam dari perjuangannya hingga di titik
terendah. Rustono, begitu sapaannya, ditemui KompasTravel di salah
satu hotel di Jakarta. Di balik kesibukannya mengatur perdagangan tempe
lintas negara, Rustono masih menyempatkan pulang untuk mengekspor mesin ciptaan
orang Indonesia ke salah satu pabriknya di Meksiko.
Rustono lahir di sebuah desa agraris, Kramat,
Kecamatan Penawangan, Grobogan, Jawa Tengah. Dengan keterbatasan tempat
lahirnya kala itu tahun 1968, tidak ada listrik teknologi maupun jalan bagus,
ia tetap menjalani keseharian dengan bercocok tanam. Kepulan putih dari pesawat
di atas sawah garapan ayahnya berterbangan silih berganti. Membuatnya
memimpikan jika suatu saat ingin terbang di dalam pesawat tersebut. Hal itulah
yang menurutnya menjadi pembeda dengan bocah seusianya yang terkesan “haram”
untuk bermimpi dari balik sawah.
Saat usia remaja, Rustono merantau
bersama tantenya di Jakarta. Ia memilih sekolah perhotelan, karena teringat
saat study tour zaman Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Ingat ketika SMP, pas
studi wisata ke Borobudur, ketemu orang asing, bercengkrama, ternyata dia
welcome. Mulai itulah saya mau kerja yang berhubungan dengan orang asing,” ujar
Rustono
Lulus dari akademi perhotelan
(1990), anak kesembilan dari sepuluh bersaudara ini akhirnya kerja di sebuah
hotel ternama di Jakarta. Di sana ia bertemu banyak kenalan turis asing, termasuk
wanita yang kini dalam dekapannya. Istrinya merupakan tamu dari Jepang yang tak
sengaja berkenalan di hotel tempat ia bekerja. Saat Rustono mengajaknya ke
pelaminan, syarat terberat yang diajukan sang istri ialah pindah ke Negeri
Sakura. Tidak langsung mengabulkan, Rustono pun kroscek menghubungi kerabatnya
di sana. Sang teman pun memberi gambaran pekerjaan di sana. Ia memilih untuk
menjadi pengusaha di Negeri Sakura, dibanding harus bekerja dengan jam yang
sangat padat. Perjanjian pun akhirnya disepakati. Pada 1997, Rustono pindah ke
Jepang dengan syarat ia ingin membuka usaha. Uniknya, ia membatasi janjinya
sendiri. Jika dalam waktu enam bulan usahanya belum menghasilkan laba, maka
dengan segala risiko, ia akan putuskan untuk bekerja. “Saat sampai ke sana
belum tahu mau usaha apa, makanya sering pinjam sepeda berkeliling lah nyari
inspirasi. Suatu saat lihat susu kedelai, nato, tahu, hampir semua olahan
kedelai ada, tapi tak ada tempe!” katanya.
Di minggu pertama, Rustono rutin
sering menelfon ibunya di desa untuk memintanya mengajari cara membuat tempe.
Namun, selama empat bulan mencoba ratusan kali, tak ada yang berhasil. Saat
itu, untuk menghidupi keluarganya, ia memilih bekerja di pabrik makanan selama
tiga tahun. Selain untuk mencari uang, Rustono berniat mempelajari etos kerja
orang Jepang di pabrik makanan sehingga bisa ia terapkan nanti di pabrik tempenya
2.2 Prestasi yang Diraih rustono di
Bidang Wirausaha
Setelah berhasil memproduksi tempe dengan
sempurna, kendala pun mulai datang. Pada saat memperkenalkan produk tempe ke
orang Jepang pun tidak semulus dan semudah di Indonesia. Tempe disana merupakan
makanan asing di telinga mereka, walaupun mereka akrab dengan bahan makanan
kedelai, tapi untuk makanan tempe ternyata asing juga di lidah meraka. perjuangan bagi Rustono untuk
memperkenalkan tempe sebagai varian produk baru berbahan baku kedelai sebagai makanan
di Jepang. Berbagai cara dan strategi promosi telah Rustono gunakan, tapi belum
berbuah manis. Tapi, Rustono yang telah berbekal pengalaman dan tempaan hidup
di Jepang tidak menyerah. Pada saat musim salju, dimana warga Jepang lainnya
berdiam diri di rumah, Rustono.berjuang untuk membuat pabrik tempenya dan ia
juga memasarkan tempenya. Dalam perjuangannya membuat pabrik tempe dan
memasarkan tempe saat musim salju ini, tidak sengaja kebiasaan Rustono ini
menjadi suatu hal yang menarik pada diri seorang wartawan yang ternyata masih
tetangganya di Jepang. Wartawan ini melihat sesuatu hal yang sungguh berbeda,
dimana saat musim salju semua orang berdiam diri di rumah, tapi Rustono malah
bekerja membangun pabrik dan jualan sungguh luar biasa.
Setelah meminta ijin kepada Rustono
untuk bersedia diliput, beberapa hari kumudian beritanya telah menyebar ke
beberapa lapisan masyarakat Jepang, dan mereka semua berlomba-lomba ingin tahu
siapa Rustono orang Indonesia si Pengusaha Tempe tersebut. Berita di media
massa Jepang, sontak telah membuat nama Rustono terkenal. Hal ini dimanfaatkan
Rustono untuk lebih memperkenalkan tempe makanan khas dari Indonesia yang
berbahan baku kedeleai ini. Lama kelamaan seiring berjalannya waktu, tempe
mulai akrab di lidah orang Jepang.
2.3 Kiat yang Dilakukan Rustono
untuk Memperoleh Kesuksesan
Dari pengalaman ia bekerja di Jepang ini banyak
manfaat yang didapatkan Rustono. Mulai dari ketelitian, disiplin waktu, kerja
keras, dan tanggung jawab penuh ia dapatkan. Kehidupan masyarakat Jepang yang
sangat disiplin dan pekerja keras telah membentuk etos kerja Rustono. Berbekal
pengalaman kerja tersebut, Rustono sedikit mempunyai gambaran tentang bagaimana
mengelola sebuah usaha industri.
Berbekal pengalaman dan keinginan
inilah, Rustono merenung dan mencari sebuah peluang usaha yang belum ada di
Jepang. Sambil mikir-mikir dan terus merenung dalam hatinya, Rustono
terinspirasi dari makanan nato (makanan khas Jepang dari kedelai) maka ia
berpikir untuk membuat sebuah usaha makanan. Maka terbersit di dalam pikiran
Rustono untuk membuat "tempe" makanan
khas Indonesia yang terbuat dari bahan kedelai seperti halnya dengan makanan
nato. Berbekal pengalaman sedikit tentang tata cara membuat tempe, ia pun
melakukan uji coba dalam membuat tempe selama kurang lebih empat bulan. Dalam
proses belajarnya membuat tempe, Rustono rela kembali ke tanah air dan pergi ke
Semarang, Solo, Yogyakarta untuk menemui beberapa pengusaha tempe lokal di
sana, untuk belajar. Rustono juga menceritakan, selama tiga bulan ia
mengunjungi beberapa kota untuk mengetahui proses pembuatan tempe bahkan kurang
lebih 60 pengusaha tempe telah ia kunjungi di seluruh tanah Jawa. Berbekal pengetahuan yang baru
dalam membuat tempe ini, Rustono kembali ke Jepang. Kerja keras dan ketekunan
Rustono berbuah manis, ia telah berhasil membuat tempe yang lezat. Kendala saat
membuat tempe di Jepang adalah perbedaan suhu dan kelembaban udara, namun hal
ini bisa diatasi oleh Rustono dengan memanfaatkan teknologi untuk
mempertahankan suhu ruangan 30 derajat celcius saat musim salju.
2.4 Kesulitan yang Dihadapi Rustono
dan Upaya Mengatasinya
Setelah meminta ijin kepada Rustono
untuk bersedia diliput, beberapa hari kumudian beritanya telah menyebar ke
beberapa lapisan masyarakat Jepang, dan mereka semua berlomba-lomba ingin tahu
siapa Rustono orang Indonesia si Pengusaha Tempe tersebut. Berita di media
massa Jepang, sontak telah membuat nama Rustono terkenal. Hal ini dimanfaatkan
Rustono untuk lebih memperkenalkan tempe makanan khas dari Indonesia yang
berbahan baku kedeleai ini. Lama kelamaan seiring berjalannya waktu, tempe
mulai akrab di lidah orang Jepang.
Setelah tempe menjadi makanan terkenal di lidah
orang Jepang, kendala pun datang kembali. Kali ini bukan datang dari orang
Jepang sebagai konsumennya, tetapi datangnya dari Pemerintah.
Ternyata regulasi pemerintahan
Jepang khususnya badan pengawas makanan di Jepang (kalau di Indonesia BPOM :
Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengisyaratkan Rustono harus mengantongi ijin
produksi di Jepang, jika ia ingin mengembangkan usahanya. Hal ini tidak
menjadikan Rustono putus asa, tapi membuat ia ingin mencoba untuk mendapatkan
ijin produksi di Jepang yang terkenal prosedurnya sangat rumit dan njelimet tapi terus ia coba dan pada akhirnya
berhasil. Dengan mengantongi ijin usaha dari pemerintah Jepang ini Rustono
terus mengembangkan produksinya.
Dengan desain cover produk
"RUSTO's Tempeh" yang mengilustrasikan kehidupan khas orang Jawa ini
secara tidak langsung membawa nama Indonesia sebagai cikal bakal makanan tempe
ini. Rustono menjual tempenya dalam kemasan 250 gram seharga 350 yen atau
kurang lebih Rp 40.000,00 dan saat ini kurang lebih 3000 kantong tempe ia
hasilkan setiap harinya. Ia mempromosikan tempenya sampai ke penjuru tanah
Jepang, baik di rumah makan vegetarian, super market, prusahaan jasa boga,
sekolah-sekolah bahkan beberapa rumah sakit di Fukuoka.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Rustono merupakan seorang pria Indonesia kelahiran desa
agraris, Kramat, Kecamatan Penawangan, Grobogan, Jawa Tengah. Beliau merupakan
lulusan dari akademi perhotelan akhirnya kerja di sebuah hotel ternama di
Jakarta. Di sana ia bertemu wanita
yang kini menjadi istrinya,yang merupakan tamu dari Jepang yang tak sengaja
berkenalan di hotel tempat ia bekerja. Saat Rustono mengajaknya ke pelaminan,
syarat terberat yang diajukan sang istri ialah pindah ke Negeri Sakura.
Disana
Rustono mulai merintis usaha tempe yang bermodal kemampuan yang baru
diperolehnya dan melakukan uji coba hingga tempenya berhasil. Setelah tempe itu
berhasil iya membuat varian ang dapat diterima oleh lidah orang Jepang serta
mengurus izin usaha kepada pemerintah agar usahanya dapat berjalan dengan
lancar.
DAFTAR PUSTAKA
https://biografi-pengusaha-muda.blogspot.com/2016/04/biografi-pengusaha-tempeh-rustono-yang.html
