Selasa, 03 Juli 2018

Orang Desa yang Menjadi Pengusaha Sukses Di Jepang


Makalah Kewirausahaan                                                            Medan,    Juli 2018
ORANG DESA YANG MENJADI PENGUSAHA SUKSES DI JEPANG



Dosen Penanggung Jawab
Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si.
Disusun Oleh:
Malony Marina
171201072
Hut 2A



 
Hasil gambar untuk logo usu





                                               


PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018


BAB I
PENDAHULUAN
 1.1 Latar Belakang
Kewirausahaan (Entrepreneurship) adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.
Wirausaha secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Beberapa istilah wirausaha seperti di Belanda dikenadengan ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer. Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa, Amerika, dan Kanada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. DI Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi berkembang.
Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan. Muncul pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.
1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pofil dari seorang Rustono?
2.      Apa saja prestasi yang diperoleh Rustono dalam bidang wirausaha?
3.      Apa kiat-kiat yang dilakukan Rustono untuk memperoleh kesuksesan?
4.      Apa kesulitan yang dihadapi Rustono dan bagaimana upaya yang dilakukan Rustono dalam mengatasi ,masalah tersebut?

1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui pofil dari seorang Rustono
2.      Untuk mengetahui prestasi yang diperoleh Rustono dalam bidang wirausaha
3.      Untuk mengetahui kiat-kiat yang dilakukan Rustono untuk memperoleh kesuksesan
4.      Untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi Rustono dan untuk mengetahui upaya yang dilakukan Rustono dalam mengatasi masalah tersebut



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Profil dari seorang Rustono
            Pria asli Indonesia ini menyediakan stok tempe ke lebih dari 60 tempat di Jepang. Belum termasuk negara-negara lainnya di benua Asia, Eropa, dan Amerika.
Di balik pencapaiannya “menduniakan” tempe, terselip pesan mendalam dari perjuangannya hingga di titik terendah. Rustono, begitu sapaannya, ditemui KompasTravel di salah satu hotel di Jakarta. Di balik kesibukannya mengatur perdagangan tempe lintas negara, Rustono masih menyempatkan pulang untuk mengekspor mesin ciptaan orang Indonesia ke salah satu pabriknya di Meksiko.
 Rustono lahir di sebuah desa agraris, Kramat, Kecamatan Penawangan, Grobogan, Jawa Tengah. Dengan keterbatasan tempat lahirnya kala itu tahun 1968, tidak ada listrik teknologi maupun jalan bagus, ia tetap menjalani keseharian dengan bercocok tanam. Kepulan putih dari pesawat di atas sawah garapan ayahnya berterbangan silih berganti. Membuatnya memimpikan jika suatu saat ingin terbang di dalam pesawat tersebut. Hal itulah yang menurutnya menjadi pembeda dengan bocah seusianya yang terkesan “haram” untuk bermimpi dari balik sawah.
Saat usia remaja, Rustono merantau bersama tantenya di Jakarta. Ia memilih sekolah perhotelan, karena teringat saat study tour zaman Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Ingat ketika SMP, pas studi wisata ke Borobudur, ketemu orang asing, bercengkrama, ternyata dia welcome. Mulai itulah saya mau kerja yang berhubungan dengan orang asing,” ujar Rustono
Lulus dari akademi perhotelan (1990), anak kesembilan dari sepuluh bersaudara ini akhirnya kerja di sebuah hotel ternama di Jakarta. Di sana ia bertemu banyak kenalan turis asing, termasuk wanita yang kini dalam dekapannya. Istrinya merupakan tamu dari Jepang yang tak sengaja berkenalan di hotel tempat ia bekerja. Saat Rustono mengajaknya ke pelaminan, syarat terberat yang diajukan sang istri ialah pindah ke Negeri Sakura. Tidak langsung mengabulkan, Rustono pun kroscek menghubungi kerabatnya di sana. Sang teman pun memberi gambaran pekerjaan di sana. Ia memilih untuk menjadi pengusaha di Negeri Sakura, dibanding harus bekerja dengan jam yang sangat padat. Perjanjian pun akhirnya disepakati. Pada 1997, Rustono pindah ke Jepang dengan syarat ia ingin membuka usaha. Uniknya, ia membatasi janjinya sendiri. Jika dalam waktu enam bulan usahanya belum menghasilkan laba, maka dengan segala risiko, ia akan putuskan untuk bekerja. “Saat sampai ke sana belum tahu mau usaha apa, makanya sering pinjam sepeda berkeliling lah nyari inspirasi. Suatu saat lihat susu kedelai, nato, tahu, hampir semua olahan kedelai ada, tapi tak ada tempe!” katanya.
Di minggu pertama, Rustono rutin sering menelfon ibunya di desa untuk memintanya mengajari cara membuat tempe. Namun, selama empat bulan mencoba ratusan kali, tak ada yang berhasil. Saat itu, untuk menghidupi keluarganya, ia memilih bekerja di pabrik makanan selama tiga tahun. Selain untuk mencari uang, Rustono berniat mempelajari etos kerja orang Jepang di pabrik makanan sehingga bisa ia terapkan nanti di pabrik tempenya
2.2 Prestasi yang Diraih rustono di Bidang Wirausaha
Setelah berhasil memproduksi tempe dengan sempurna, kendala pun mulai datang. Pada saat memperkenalkan produk tempe ke orang Jepang pun tidak semulus dan semudah di Indonesia. Tempe disana merupakan makanan asing di telinga mereka, walaupun mereka akrab dengan bahan makanan kedelai, tapi untuk makanan tempe ternyata asing juga di lidah meraka. perjuangan bagi Rustono untuk memperkenalkan tempe sebagai varian produk baru berbahan baku kedelai sebagai makanan di Jepang. Berbagai cara dan strategi promosi telah Rustono gunakan, tapi belum berbuah manis. Tapi, Rustono yang telah berbekal pengalaman dan tempaan hidup di Jepang tidak menyerah. Pada saat musim salju, dimana warga Jepang lainnya berdiam diri di rumah, Rustono.berjuang untuk membuat pabrik tempenya dan ia juga memasarkan tempenya. Dalam perjuangannya membuat pabrik tempe dan memasarkan tempe saat musim salju ini, tidak sengaja kebiasaan Rustono ini menjadi suatu hal yang menarik pada diri seorang wartawan yang ternyata masih tetangganya di Jepang. Wartawan ini melihat sesuatu hal yang sungguh berbeda, dimana saat musim salju semua orang berdiam diri di rumah, tapi Rustono malah bekerja membangun pabrik dan jualan sungguh luar biasa.
Setelah meminta ijin kepada Rustono untuk bersedia diliput, beberapa hari kumudian beritanya telah menyebar ke beberapa lapisan masyarakat Jepang, dan mereka semua berlomba-lomba ingin tahu siapa Rustono orang Indonesia si Pengusaha Tempe tersebut. Berita di media massa Jepang, sontak telah membuat nama Rustono terkenal. Hal ini dimanfaatkan Rustono untuk lebih memperkenalkan tempe makanan khas dari Indonesia yang berbahan baku kedeleai ini. Lama kelamaan seiring berjalannya waktu, tempe mulai akrab di lidah orang Jepang.
2.3 Kiat yang Dilakukan Rustono untuk Memperoleh Kesuksesan
Dari pengalaman ia bekerja di Jepang ini banyak manfaat yang didapatkan Rustono. Mulai dari ketelitian, disiplin waktu, kerja keras, dan tanggung jawab penuh ia dapatkan. Kehidupan masyarakat Jepang yang sangat disiplin dan pekerja keras telah membentuk etos kerja Rustono. Berbekal pengalaman kerja tersebut, Rustono sedikit mempunyai gambaran tentang bagaimana mengelola sebuah usaha industri.
Berbekal pengalaman dan keinginan inilah, Rustono merenung dan mencari sebuah peluang usaha yang belum ada di Jepang. Sambil mikir-mikir dan terus merenung dalam hatinya, Rustono terinspirasi dari makanan nato (makanan khas Jepang dari kedelai) maka ia berpikir untuk membuat sebuah usaha makanan. Maka terbersit di dalam pikiran Rustono untuk membuat "tempe" makanan khas Indonesia yang terbuat dari bahan kedelai seperti halnya dengan makanan nato. Berbekal pengalaman sedikit tentang tata cara membuat tempe, ia pun melakukan uji coba dalam membuat tempe selama kurang lebih empat bulan. Dalam proses belajarnya membuat tempe, Rustono rela kembali ke tanah air dan pergi ke Semarang, Solo, Yogyakarta untuk menemui beberapa pengusaha tempe lokal di sana, untuk belajar. Rustono juga menceritakan, selama tiga bulan ia mengunjungi beberapa kota untuk mengetahui proses pembuatan tempe bahkan kurang lebih 60 pengusaha tempe telah ia kunjungi di seluruh tanah Jawa. Berbekal pengetahuan yang baru dalam membuat tempe ini, Rustono kembali ke Jepang. Kerja keras dan ketekunan Rustono berbuah manis, ia telah berhasil membuat tempe yang lezat. Kendala saat membuat tempe di Jepang adalah perbedaan suhu dan kelembaban udara, namun hal ini bisa diatasi oleh Rustono dengan memanfaatkan teknologi untuk mempertahankan suhu ruangan 30 derajat celcius saat musim salju.
2.4 Kesulitan yang Dihadapi Rustono dan Upaya Mengatasinya
            Setelah meminta ijin kepada Rustono untuk bersedia diliput, beberapa hari kumudian beritanya telah menyebar ke beberapa lapisan masyarakat Jepang, dan mereka semua berlomba-lomba ingin tahu siapa Rustono orang Indonesia si Pengusaha Tempe tersebut. Berita di media massa Jepang, sontak telah membuat nama Rustono terkenal. Hal ini dimanfaatkan Rustono untuk lebih memperkenalkan tempe makanan khas dari Indonesia yang berbahan baku kedeleai ini. Lama kelamaan seiring berjalannya waktu, tempe mulai akrab di lidah orang Jepang. Setelah tempe menjadi makanan terkenal di lidah orang Jepang, kendala pun datang kembali. Kali ini bukan datang dari orang Jepang sebagai konsumennya, tetapi datangnya dari Pemerintah.
Ternyata regulasi pemerintahan Jepang khususnya badan pengawas makanan di Jepang (kalau di Indonesia BPOM : Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengisyaratkan Rustono harus mengantongi ijin produksi di Jepang, jika ia ingin mengembangkan usahanya. Hal ini tidak menjadikan Rustono putus asa, tapi membuat ia ingin mencoba untuk mendapatkan ijin produksi di Jepang yang terkenal prosedurnya sangat rumit dan njelimet tapi terus ia coba dan pada akhirnya berhasil. Dengan mengantongi ijin usaha dari pemerintah Jepang ini Rustono terus mengembangkan produksinya.
Dengan desain cover produk "RUSTO's Tempeh" yang mengilustrasikan kehidupan khas orang Jawa ini secara tidak langsung membawa nama Indonesia sebagai cikal bakal makanan tempe ini. Rustono menjual tempenya dalam kemasan 250 gram seharga 350 yen atau kurang lebih Rp 40.000,00 dan saat ini kurang lebih 3000 kantong tempe ia hasilkan setiap harinya. Ia mempromosikan tempenya sampai ke penjuru tanah Jepang, baik di rumah makan vegetarian, super market, prusahaan jasa boga, sekolah-sekolah bahkan beberapa rumah sakit di Fukuoka.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Rustono merupakan seorang pria Indonesia kelahiran desa agraris, Kramat, Kecamatan Penawangan, Grobogan, Jawa Tengah. Beliau merupakan lulusan dari akademi perhotelan akhirnya kerja di sebuah hotel ternama di Jakarta. Di sana ia bertemu wanita yang kini menjadi istrinya,yang merupakan tamu dari Jepang yang tak sengaja berkenalan di hotel tempat ia bekerja. Saat Rustono mengajaknya ke pelaminan, syarat terberat yang diajukan sang istri ialah pindah ke Negeri Sakura.
            Disana Rustono mulai merintis usaha tempe yang bermodal kemampuan yang baru diperolehnya dan melakukan uji coba hingga tempenya berhasil. Setelah tempe itu berhasil iya membuat varian ang dapat diterima oleh lidah orang Jepang serta mengurus izin usaha kepada pemerintah agar usahanya dapat berjalan dengan lancar.

           


DAFTAR PUSTAKA
https://biografi-pengusaha-muda.blogspot.com/2016/04/biografi-pengusaha-tempeh-rustono-yang.html